Kamis, 17 Oktober 2019

UPAYA MEMINIMALISIR ANGKA MALNUTRISI


UPAYA MEMINIMALISIR ANGKA MALNUTRISI


Malnutrisi adalah kondisi dimana tubuh kekurangan asupan energi dan protein yang menjadi  penyebab utama kematian pada balita. Di negara berkembang, persentase balita malnutrisi yang dirawat di rumah sakit mencapai 24 persen. Diperkirakan 148 juta anak mengalami malnutrisi, 78 juta berada di Asia Selatan dan 38 juta di Sub-Sahara Afrika.
            Anak – anak dan balita merupakan kelompok masyarakat yang rentan terhadap permasalahan gizi. Mereka mengalami siklus pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan asupan gizi lebih besardi bandingkan dengan kelompok umur lain. Sehingga anak – anak dan balita menjadi sasaran empuk untuk mengalami kelainan gizi.
            Pada anak balita, malnutrisi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu malnutrisi sedang dan malnutrisi berat. Malnutrisi sedang seringkali dinamakan malnutrisi akut sedang, yaitu nilai skor z berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) di antara -2 hingga -3 standar deviasi (SD) di bawah nilai mean atau 70 - 80% National Center for Health Statistic (NCHS). Malnutrisi akut berat yaitu nilai skor z BB/TB kurang dari -3 SD di bawah nilai mean atau <70% NCHS atau lingkar lengan atas kurang dari 115 mm. Malnutrisi akut berat telah menyebabkan kematian dua juta balita di dunia setiap tahun. Secara global, malnutrisi akut sedang dan malnutrisi akut berat telah diderita oleh 20-52 juta anak balita di dunia.
            Di Indonesia sendiri, pada tahun 2007 prevalensi anak balita yang mengalami gizi kurang dan pendek adalah 18,4% sehingga Indonesia termasuk di antara 36 negara di dunia yang memberi 90% kontribusi masalah gizi dunia. Pada tahun 2010, prevalensi gizi kurang dan pendek menurun menjadi 17,9%. Prevalensi kurus dan sangat kurus (wasting) berdasarkan indeks BB/TB pada anak balita tidak turun bermakna selama tiga tahun terakhir. Kekurangan gizi akan berimplikasi pada perkembangan anak dan selanjutnya perkembangan potensi diri pada usia produktif.
                        Kekurangan gizi pada awal kehidupan berdampak serius terhadap kulialitas sumber daya manusia di masa depan. Hal ini dikarenakan kurang gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan, berat badan lahir rendah (BBLR), kecil, pendek, kurus, serta daya tahan tubuh yang rendah. Dalam perkembangannya, seorang anak yang kurang gizi akan mengalami hambatan perkembangan kognitif dan kegagalan pendidikan sehingga berakibat pada rendahnya tingkat produktivitas di masa depan. Kurang gizi yang dialami saat awal kehidupan juga akan berdampak pada peningkatan risiko gangguan metabolik yang berujung pada kejadian penyakit menular seperti diabetes, stroke, penyakit jantung, dan penyakit lainnya saat memasuki usia dewasa.
            Dimensi pembangunan diarahkan pada upaya kebijakan dan program yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat yang menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang unggul. Apabila semua penduduk suatu bangsa memperoleh gizi yang cukup sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal maka akan terlahir penduduk yang memiliki kualitas yang baik, dan sumber daya manusia yang berkualitas ini merupakan unsur utama dalam pembangunan suatu bangsa. Karena itu, salah satu prioritas pembangunan adalah pembangunan karakter bangsa, yang tentunya ditentukan pula oleh kecukupan gizi.
            Malnutrisi atau yang lebih dikenal dengan sebutan gizi buruk, tidak hanya meningkatkan angka kematian tetapi juga berakibat pada angka produktivitas, serta menghambat perkembangan sel – sel otak yang buruk dan dapat mengakibatkan keterbelakangan. Masalah gizi di Indonesia dipengaruhi banyak faktor, diantaranya kemiskinan, kesehatan, pangan, pendidikan, air bersih, keluarga berencana, dan faktor lainnya. Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk meminimalisir masalah malnutrisi ini khususnya di Indonesia.
            Oleh karena itu permasalahan perbaikan gizi masyarakat merupakan upaya dari berbagai sektor yang membutuhkan sinergi dan harus terkoordinasi
Upaya percepatan perbaikan gizi akan diarahkan pada penyusunan program prioritas di kementerian terkait, mobilisasi sumber dana, sarana dan daya, advokasi serta pendidikan masyarakat untuk program perbaikan gizi, tambahnya.
            Penanganan pada malnutrisi itu sendiri disesuaikan kembali dengan kondisi yang dialami anak ataupun balita. Secara garis besarnya, pengobatan untuk penderita malnutrisi dapat diawali dengan rencana perawatan. Perawatan ini meliputi program makan teratur secara khusus dan adanya pemberian suplemen gizi tambahan. Sedangkan pada anak atau balita yang mengalami kurang gizi serius akan dimonitor untuk melihat perkembangan. Perawatan akan ditinjau secara rutin untuk memastikan gizi yang didapatkan tersebut cukup.
            Langkah selanjutnya yaitu pengaturan pola makan. Pada tahap ini, dokter dan ahli gizi akan memberikan saran mengenai asupan gizi yang tepat sesuai kondisi tubuh anak atau balita. Apabila pasien tidak merasa cukup dengan kadar asupan yang telah disarankan, maka diperlukan tambahan dari suplemen.
            Tahapan terakhir adalah pemantauan secra berkala. Pada tahap ini, kesehatan anak atau balita akan dipantau secara rutin untuk melihat apakah ia telah menerima asupan gizi yang cukup. Di samping itu, pengobatan ini dapat disesuaikan kembali dengan kondisi si anak. Apabila ia berada pada tingkat kekurangan gizi yang terbilang rendah maka pemeriksaan bisa dilakukan dengan rentang yang panjang. Namun sebaliknya apabila penderita kekurangan gizi  sudah berada di tahan yang parah maka diperlukan konsultasi dan pemantauan sesering mungkin hingga kondisinya membaik.
            Di samping itu, upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat antara lain :
1.      Peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang diprogramkan oleh pemerintah yang diarahkan pada perberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga.
2.      Peningkatan produksi pangan yang bervariasi tanpa mengurangi kandungan gizi dari pangan tersebut.
3.      Peningkatan pengawasan dan penelitian terhadap pangan sebelum beredar di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA




Mata Kuliah : Komunikasi Kesehatan
Disusun oleh : kelompok 3

1. Desmi Dodi Putra (1911212054)  http://www.instagram.com/_realdodi 
2. Intan Berliana Marianda (1911211032)
3. Chintya Falenski (1911213018) instagram.com/chintyafalenski/
4. Siska Mayeni (1911211044)
5. Mirna saputri (1911211030) instagram.com/akamrna/
6. Bayu Ananda Nasution (1911211026)
7. Elsa Nur Ikhsani (1911212034)
8. Andini agesta putri (1911212024)
9. Dea Anggraini(1911211036)


Prodi : Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas : Kesehatan Masyarakat


UNIVERSITAS ANDALAS

UPAYA MEMINIMALISIR ANGKA MALNUTRISI

UPAYA MEMINIMALISIR ANGKA MALNUTRISI Malnutrisi adalah kondisi dimana tubuh kekurangan asupan energi dan protein yang menjadi   p...