UPAYA
MEMINIMALISIR ANGKA MALNUTRISI
Anak – anak dan balita merupakan
kelompok masyarakat yang rentan terhadap permasalahan gizi. Mereka mengalami
siklus pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan asupan gizi lebih besardi bandingkan
dengan kelompok umur lain. Sehingga anak – anak dan balita menjadi sasaran
empuk untuk mengalami kelainan gizi.
Pada anak balita, malnutrisi dapat diklasifikasikan menjadi
dua yaitu malnutrisi sedang dan malnutrisi berat. Malnutrisi sedang
seringkali dinamakan malnutrisi akut sedang, yaitu nilai skor z berat badan
menurut tinggi badan (BB/TB) di antara -2 hingga -3 standar deviasi (SD) di
bawah nilai mean atau 70 - 80% National Center for Health Statistic
(NCHS). Malnutrisi akut berat yaitu nilai skor z BB/TB kurang dari -3 SD di
bawah nilai mean atau <70% NCHS atau lingkar lengan atas kurang dari
115 mm. Malnutrisi akut berat telah menyebabkan kematian dua juta balita di
dunia setiap tahun. Secara global, malnutrisi akut sedang dan malnutrisi akut
berat telah diderita oleh 20-52 juta anak balita di dunia.
Di Indonesia sendiri, pada tahun
2007 prevalensi anak balita yang mengalami gizi kurang dan pendek adalah 18,4% sehingga
Indonesia termasuk di antara 36 negara di dunia yang memberi 90% kontribusi
masalah gizi dunia. Pada tahun 2010, prevalensi gizi kurang dan pendek menurun
menjadi 17,9%. Prevalensi kurus dan sangat kurus (wasting) berdasarkan
indeks BB/TB pada anak balita tidak turun bermakna selama tiga tahun terakhir. Kekurangan gizi akan berimplikasi pada
perkembangan anak dan selanjutnya perkembangan potensi diri pada usia
produktif.
Kekurangan gizi pada awal kehidupan berdampak
serius terhadap kulialitas sumber daya manusia di masa depan. Hal ini
dikarenakan kurang gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan, berat badan
lahir rendah (BBLR), kecil, pendek, kurus, serta daya tahan tubuh yang rendah.
Dalam perkembangannya, seorang anak yang kurang gizi akan mengalami hambatan
perkembangan kognitif dan kegagalan pendidikan sehingga berakibat pada
rendahnya tingkat produktivitas di masa depan. Kurang gizi yang dialami saat
awal kehidupan juga akan berdampak pada peningkatan risiko gangguan metabolik
yang berujung pada kejadian penyakit menular seperti diabetes, stroke, penyakit
jantung, dan penyakit lainnya saat memasuki usia dewasa.
Dimensi pembangunan diarahkan pada upaya kebijakan dan program yang
dilakukan untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat yang menghasilkan
manusia-manusia Indonesia yang unggul. Apabila semua penduduk suatu bangsa
memperoleh gizi yang cukup sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal
maka akan terlahir penduduk yang memiliki kualitas yang baik, dan sumber daya
manusia yang berkualitas ini merupakan unsur utama dalam pembangunan suatu
bangsa. Karena itu, salah satu prioritas pembangunan adalah pembangunan
karakter bangsa, yang tentunya ditentukan pula oleh kecukupan gizi.
Malnutrisi atau yang lebih dikenal dengan sebutan gizi
buruk, tidak hanya meningkatkan angka kematian tetapi juga berakibat pada angka
produktivitas, serta menghambat perkembangan sel – sel otak yang buruk dan
dapat mengakibatkan keterbelakangan. Masalah
gizi di Indonesia dipengaruhi banyak faktor, diantaranya kemiskinan, kesehatan,
pangan, pendidikan, air bersih, keluarga berencana, dan faktor lainnya. Maka
dari itu, perlu adanya upaya untuk meminimalisir masalah malnutrisi ini
khususnya di Indonesia.
Oleh karena itu
permasalahan perbaikan gizi masyarakat merupakan upaya dari berbagai sektor
yang membutuhkan sinergi dan harus terkoordinasi
Upaya percepatan perbaikan gizi akan diarahkan pada penyusunan program prioritas di kementerian terkait, mobilisasi sumber dana, sarana dan daya, advokasi serta pendidikan masyarakat untuk program perbaikan gizi, tambahnya.
Upaya percepatan perbaikan gizi akan diarahkan pada penyusunan program prioritas di kementerian terkait, mobilisasi sumber dana, sarana dan daya, advokasi serta pendidikan masyarakat untuk program perbaikan gizi, tambahnya.
Penanganan pada malnutrisi itu sendiri disesuaikan
kembali dengan kondisi yang dialami anak ataupun balita. Secara garis besarnya,
pengobatan untuk penderita malnutrisi dapat diawali dengan rencana perawatan.
Perawatan ini meliputi program makan teratur secara khusus dan adanya pemberian
suplemen gizi tambahan. Sedangkan pada anak atau balita yang mengalami kurang
gizi serius akan dimonitor untuk melihat perkembangan. Perawatan akan ditinjau
secara rutin untuk memastikan gizi yang didapatkan tersebut cukup.
Langkah selanjutnya yaitu pengaturan pola makan. Pada
tahap ini, dokter dan ahli gizi akan memberikan saran mengenai asupan gizi yang
tepat sesuai kondisi tubuh anak atau balita. Apabila pasien tidak merasa cukup
dengan kadar asupan yang telah disarankan, maka diperlukan tambahan dari
suplemen.
Tahapan terakhir adalah pemantauan secra berkala. Pada
tahap ini, kesehatan anak atau balita akan dipantau secara rutin untuk melihat
apakah ia telah menerima asupan gizi yang cukup. Di samping itu, pengobatan ini
dapat disesuaikan kembali dengan kondisi si anak. Apabila ia berada pada
tingkat kekurangan gizi yang terbilang rendah maka pemeriksaan bisa dilakukan
dengan rentang yang panjang. Namun sebaliknya apabila penderita kekurangan gizi
sudah berada di tahan yang parah maka
diperlukan konsultasi dan pemantauan sesering mungkin hingga kondisinya
membaik.
Di samping itu, upaya yang dapat dilakukan oleh
pemerintah maupun masyarakat antara lain :
1.
Peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang
diprogramkan oleh pemerintah yang diarahkan pada perberdayaan keluarga untuk meningkatkan
ketahanan pangan tingkat rumah tangga.
2.
Peningkatan produksi pangan yang bervariasi tanpa
mengurangi kandungan gizi dari pangan tersebut.
3.
Peningkatan pengawasan dan penelitian terhadap pangan
sebelum beredar di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Mata Kuliah : Komunikasi Kesehatan
Disusun oleh : kelompok 3
1. Desmi Dodi Putra (1911212054) http://www.instagram.com/_realdodi
2. Intan Berliana Marianda (1911211032)
3. Chintya Falenski (1911213018) instagram.com/chintyafalenski/
4. Siska Mayeni (1911211044)
5. Mirna saputri (1911211030) instagram.com/akamrna/
6. Bayu Ananda Nasution (1911211026)
7. Elsa Nur Ikhsani (1911212034)
8. Andini agesta putri (1911212024)
9. Dea Anggraini(1911211036)
Prodi : Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas : Kesehatan Masyarakat
UNIVERSITAS ANDALAS


